Sejarah Desa

Sejarah Desa

SEJARAH DESA JATIREJO

 

Sekitar pada tahun 1915, Kadipaten Kendal pernah menyerbu/ perang dengan Kadipaten Kedu, tetapi beberapa masyarakat Kedu justru ada yang datang ke Kendal, karena pada saat itu Kendal di pimpin oleh Tumenggung Bahurekso yang sangat berpengaruh di Kadipaten lain dan mempunyai pasukan yang cukup kuat. Mereka datang ke Kendal untuk mencari suaka (perlindungan) kepada Kadipaten/ Pemerintah Kendal.

Diantara orang-orang yang mencari perlindungan, ada lima (5) pemuda yang masih satu keluarga. Orang tua mereka bernama Ki Sali, penduduk asli Kedu, sedang lima anaknya yaitu :

  1. Gunung Gombol
  2. Gunung Wonojoyo
  3. Gunung Nolo
  4. Gunung Karto
  5. Ki Gunung

Mengenai nama depan mereka yang memakai nama gunung disebabkan oleh tanah asal mereka yaitu daerah pegunungan di wilayah Kedu. Setelah suaka mereka diterima, mereka berlima dipersilahkan untuk Bubak alas (membuka hutan) di wilayah Kadipaten Kendal. Mereka berlima menyatakan diri untuk mengabdi atau magang kepada pemerintah Kendal, serta mereka menetap di suatu daera yang bernama Magangan yang berasal dari kata Magang/ Mragang.

Menurut sumber lain, dinamakan Magangan karena konon tempat itu dijadikan sebagai tempat penampungan dan pendaftaran (perekrutan) calon prajurit Mataram yang akan dipersiapkan dan diberangkatkan untuk menyerang VOC di Batavia, dari sumber tersebut menyatakan bahwa kata “magang” atau percalonan prajurit.

Kemudian dari kelima bersaudara tersebut yang antara lain Gunung Gombol, Gunung Wonojoyo, dan Gunung Nolo MENETAP Di Magangan, sementara Gunung Karta membuka pemukiman di daerah yang sekitarnya masih berupa rawa-rawa atau balongan hingga disebut kampong Balong, dan tempat itu juga nantinya menjadi pusat kegiatan syiar agama Islam yang tedapat banyak santri yang belajar agama Islam sehingga sering juga disebut dengan nama Pesantren.

Dari ketiga orang yang menetap di Magangan, Gunung Nolo meninggal sebelum mempunyai keturunan. Tinggalah dua orang yaitu Gunung Gombol dan Gunug Wonojoyo. Gunung Gombol mempuyai pribadi yang sangat sederhana dan lugu, tidak pintar baca tulis dan beliau juga tidak mempunyai kacakapan untuk memimpim. Tapi lain lagi dengan Gunung Wonojoyo beliau adalah seorang yang mempunyai pemikiran yang cerdas dan bias abaca tulis serta mempunyai kecakapan dalam hal kepemimpinan.

Karena hal tersebut Gunung Gombol meminta adiknya Gunung Wonojoyo agar menjadi pemimpin desa yang baru dibentuk itu dan mereka beri nama “Magangan”. Maka diangkatlah Gunung Wonojoyo menjadi Lurah yang pertama di desa tersebut.

Setelah beberapa tahun Gunung Wonojoyo memimpin desa Magangan dan akhirnya beliaupun meninggal, maka kepemimpinan digantikan oleh Ki Lurah Sinung dan dibantu oleh carik bernama Joko. Pada masa ini terjadi penggabungan tiga desa yaitu Magangan, Mijil, dan Duren menjadi satu. Mijil waktu itu dipimpin oleh Ki lurah Suri.

Disaat itu masyarakat desa kurang makmur, karena ada pengertian atao sabdo kata “Maganan” artinya pengabdian kepada pemerintah. Setelah kemerdekaan RI, tokoh-tokoh masyarakat beriniasiatif menggabungkan tiga wilayah menjadi satu.

Untuk memberikan nama desa yang baru para tokoh desapun berkumpul dan berembug, karena pada waktu itu letak geografis desa yang berada disekitar wilayah hutan jati dan disekitar hutan jati tersebut ramai oleh lalu lintas ekonomi/ perdagangan masyarakat sekitar yang dalam bahasa jawa ramai adalah “Rejo” maka dinamakan desa Jatirejo, yang mempunya arti daerah hutan jati yang ramai.

Pemimpin Desa Jatirejo dari masa ke masa

A. Lurah Sinung dan Carik Joko

Pada masa ini terjadi penggabungan tiga desa yaitu Magangan, Mijil, Duren menjadi satu desa yang disebut Jatirejo.

Administrasi desa belum tertata, kantor desa juga belum ada. Lurah hanya berfungsi sebagai penggerak masa saja dan belum ada program-program pembangunan fisik maupun pendidikan.

Salah satu peristiwa besar yang terjadi pada masa ini adalah peristiwa “bring Cino” yaitu peristiwa penjarahan dan pengusiran orang-orang keturunan cina. Orang-orang cina waktu itu datang dari daerah Semarang dan mendirikan bisnis di Magangan dan tingkat ekonomi mereka lebih baik dari penduduk asli tetapi mereka kurang mempunyai rasa sosial dengan masyarakat sekitar. Dari para penjajah tersebut justru orang luar desalah yang mendominasi aksi tersebut. Menurut tutur cerita orang tua, otak aksi tersebut adalah orang luar Magangan.

Pada masa ini juga pemerintah desa pernah mengalami kekosongan karena ditinggal pergi oleh lurah Sinung ke Jember Jawa Timur (daerah Watu Kebo) karena terkait perkara uang Rp. 60,- dengan seorang pengusaha keturunan cina yang berada di Magangan (sekarang kompleks pasar Magangan).

Untuk mengisi kekosongan pemerintahan desa, maka diangkatlah pimpinan desa yang baru yaitu Ki Reksodiprawiro atau sering disebut masyarakat dengan sebutan Lurah Ndoro.

B. Lurah Reksodiprawiro dan carik Soemantri (Tahun 1937-1948)

Pemilihan pemimpin desa waktu itu memakai sistem yang disebut dengan istilah “ulo-ulo cabe” atau “lut-lutan luwing” yaitu tiap pendukung calon/kandidat lurah harus ikut berbaris berderet dibelakang orang yang akan dipilih.

Program-program pembangunan desa belum ada yang berarti. Kehidupan warga masih terbatas pada bercocok tanam di sawah atau lading dan beternak ayam, kerbau, dan kambing saja.

C. Lurah Sinung dan Carik Soemantri (Tahun 1948-1955)

Setelah pulang dari Jember Ki Sinunng diangkat kembali menjadi Lurah desa karena dianggap oleh masyarakat seorang pimpinan yang baik dan bijak. Pemilihan lurah pada masa itu menggunakan metode bumbung yaitu dengan memasukan “biting” atau potongan-potongan kecil lidi untuk dimasukan ke tempat milik salah satu calon lurah yang waktu itu terbuat dari potongan bambu (jawa= bumbung)

Pemerintahan lurah SInung tidak berlangsung lama karena pada masa itu ada seseorang yang membenci lurah Sinung. Salah satunya adalah seorang yang bernama Supangat, pemuda asal desa Galih Sedayu Gemuh. Dia adalah bekas anggota tentara KNIL (tentara yang mendukung pemerintahan Hindia Belanda yang terdiri dari orang-orang pribumi) yang tidak mau bergabung dengan TNI setelah Belanda terusir dari bumi pertiwi dan memilih menjadi kelompok bersenjata yang pekerjaanya merampok, menculik wanita muda dan menjarah harta benda milik rakyat. Masyarakat menamakan kelompok mereka dengan sebutan garong. Supangat lebih dikenal dengan nama Ki Surogrendo.

Akhirnya pada suatu malam lurah Sinung didatangi oleh Surogerndo dan beberapa anak buahnya kemudian dianiaya dengan cara lehernya dijerat tali dari belakang sampai dikira sudah mati dan ditinggalkan. Setelah sempat ditinggalkan sebentar oleh Surogrendo dan kawan-kawan, Lurah Sinung merangkak hendak meminta pertolongan warga tetapi dari anak buah buah Surogrenda ada yang melihat masih hidup dan kemudian Surogrendo mendatangi lurah Sinung dan menginjak-injak dada serta mengambil batu untuk memecahkan testis kemaluan Lurah Sinung hingga tewas.

Surogrendo akhirnya juga tewas diterjang peluru yang pura-pura menjadi anak buahnya ketika ia melakukan aksi perampokan di desa Ngampel. Setelah tewasnya Surogrendo, kelompok garong sudah tidak terkoordinir lagi yang pada akhirnya membubarkan diri dan kebanyakan dari mereka ditangkap apparat kepolisian.

D. Karteker Ngain

Setelah tewanya Lurah Sinung oleh Surorendo, tampak kepemimpinan desa dilajutkan oleh Lurah sementara (Karteker) yang ditunjuk dari partai terkuat desa yaitu ketua Partai Nahdatul Ulama (NU) sampai batas waktu tertentu.

E. Lurah Bordi dan carik Soemantri (sekitar tahun 1955-1965)

Pembangunan fisik mulai ada walau kurang begitu maju, pelayanan terhadap masyarakat juga mulai berjalan baik walaupun belum maksimal. Pada masa Lurah Bordi ini kondisi politik Negara RI sedang dalam iklim yang panas yaitu terjadi gerakan 30 September yang didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) untuk mengganti dasar Negara RI dari Pancasila menjadi Komunis. Dan akhirnya Pemerintah RI menumpas dan melarang paham Komunis sampai pada akar-akarnya dan tidak memperbolehkan keturunan dari anggota PKI untuk duduk dipemerintahan dan menjadi pegawai pemerintah. Hal ini berimbas pada pemerintahan desa Jatirejo karena Lurah desa Jatirejo adalah termasuk salah satu anggota PKI yang mempunyai pengaruh terhadap masyarakat desa. Kebijakan pemerintah tersebut secara otomatis melengserkan Lurah Bordi dari tampuk kepemimpinan desa Jatirejo dan harus diganti.

F. Lurah Koesmin dan carik Soerjadi Tjiepto Soedarmo (Tahun 1967-1983)

Pada masa Lurah Koesmin inilah pembangunan fisik desa sudah mulai berjalan secara sistematis dan terencana. Hal ini terbukti dengan beberapa fasilitas sarana dan prasarana umum, yaitu:

  1. Pendirian Kantor Balai Desa
  2. Pendirian Sekolah Dasar dan SD Inpress.

G. Kepala Desa Toeryjanto dan carik Soerji Soetjipto Soedarmo (Tahun 1985-1987)

H. Kepala Desa Toeryjato dan carik Soemito (1985-1993)

I.  Soewarto, BA dan carik Soemito (1994-2001)

J.  Rondiyah dan carik Soemito (2002-2007)

K. Solikin dan carik H. Soemito (2008-2014)

L. Kepala desa H. Sumanto dan carik H. Soemito (September 2014-februari 2015)

M. Kepala desa H. Sumanto dan carik H. Soemito (Maret 2015-Februari 2016)

N. Kepala desa H. Soemito, carik H. Soemito (Februari 2016-Desember 2016)

O. Kepala desa H. Sumanto (9 Desember sampai sekarang)